Tampilkan postingan dengan label Blog Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blog Edukasi. Tampilkan semua postingan

Seorang Hamba yang Taat

 



Amsal 20 : 6

"Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang setia, siapakah menemukannya?"

"Taat" berarti "Setia". Orang baik itu banyak, tapi perihal "Kesetiaan" itu masih menjadi suatu hal yang sulit ditemukan dalam kualitas diri manusia. Sebagai contoh, ada seorang anak yang bisa mengaku bahwa dirinya mencintai Tuhan dengan mengekspresikannya dalam bentuk rasa cinta terhadap sesamanya. Namun seiring berjalannya waktu, temannya menunjukkan suatu sifat yang sulit diterima oleh anak itu. Jadilah anak itu tidak memiliki kasih yang mula-mula, kasihnya tidak konsisten. 

Hati manusia tentu bisa berubah. Di awal ia bisa mengucapkan suatu janji dalam hal komitmen untuk mematuhi apa yang menjadi perintah Tuhan. Namun, ketika ia sudah merasa "cukup", terkadang bisa saja janji yang pernah disepakati mulai terlupakan. Suatu kesetiaan bisa jadi hal yang sulit untuk dijalani ketika memang kita tidak memiliki suatu solusi Bagaimana jika suatu hal yang tidak mengenakan terjadi dalam diri kita (rasa bosan, rasa malas, rasa takut, rasa khawatir, rasa benci, rasa dendam, rasa sudah cukup baik, dll). Maka dari pada itu, Tuhan berfirman..

Kolose 3 : 23

"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia"

Suatu komitmen dimulai dari "segenap hati" yang berarti tanpa paksaan, tanpa merasa terbebani, dan dengan kesungguhan untuk melakukan suatu hal tertentu. Orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, pasti ia tersetting untuk selalu melakukan suatu pekerjaan yang baik. Bukan untuk dipandang baik oleh manusia, bahkan saat dimana ia sedang tidak dalam pengawasan manusia pun, ia tetap bisa menjaga hidupnya agak tetap melakukan segala yang baik (integritas). Tuhan sangat menghargai setiap proses kecil yang terjadi dalam hidup kita. Walaupun kita tidak secara langsung merasakan dampaknya, tetapi Tuhan melihat suatu hal baik ketika dimana kita memilih untuk setia dalam setiap perkara yang kecil.
Lukas 16 : 10

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan Barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara keci;, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara yang besar"

Tuhan akan mempromosikan hidup kita jikalau kita setia dalam setiap prosesnya. Tuhan melihat secara detail apa saja yang kita lakukan, Tuhan mengawas-awasi kehidupan kita, Apakah kita benar-benar sanggup ketika dipercayakan untuk memegang suatu tanggungjawab yang lebih besar. Tuhan melihat itu dari setiap kebiasaan-kebiasaan kecil kita. Misalnya, seseorang belum juga terjawab doanya soal pasangan dikarenakan ia sering meninggalkan pekerjaannya. Setia itu menandakan kualitas diri kita. Sudah sejauh manakah Anda dapat dipercayai? 

"Janganlah menjadikan berkat yang daripada Tuhan sebagai motivasi untuk kita menjadi seorang hamba yang taat"

Meminta berkat tentu tidak masalah di hadapan Tuhan. Namun, jangan jadikan itu menjadi suatu motivasi kita dalam menjalankan suatu pertobatan. Setialah oleh sebab Tuhan telah setia dalam hidupmu. Setialah oleh sebab Tuhan begitu mengasihi kamu. Setialah oleh sebab banyak hal baik yang telah Tuhan lakukan atas hidup kamu. Milikilah pemikiran bahwa "Saya mengasihi Kristus, dan saya tidak ingin menyakiti hatiNya". Terkadang banyak janji manis yang kita berikan kepada Tuhan namun tidak kita tepati. Tuhan bingung, tetapi Ia tetap memaklumi. Manusia berkualitas dimulai dari sebagaimana ia menjalankan suatu komitmennya. Berani menyepakati suatu komitmen, maka berani juga setia dalam menjalaninya. 


Mengutamakan Tuhan


Ditulis pada: Sabtu, 27 Juli 2024



Sebagai orang percaya, mengutamakan Tuhan merupakan suatu hal yang harus diterapkan untuk mengekspresikan segala bentuk rasa mengasihi, menghormati, serta rasa percaya kita kepada Tuhan. Tidak semua orang percaya memahami dan selalu menerapkan hidup yang mengutamakan Tuhan dalam kesehariannya. Jadi.. seperti apa sih hidup yang mengutamakan Tuhan?




Matius 10:38-39

"Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya."


1. Mau Memikul Salib

Hidup yang mengutamakan Tuhan adalah dia yang mau menyangkal segala kedagingannya/keinginan dirinya. Kita sebagai manusia tentu selalu memiliki kehendak bebas untuk menentukan pilihan. Sebagai contoh, seorang anak muda sedang stress karena dilanda masalah, dia tentu punya banyak pilihan untuk meredakan stressnya, yaitu datang kepada Tuhan atau melakukan kebiasaan merokok. 

Sebagai orang yang mengutamakan Tuhan, tentu kita memandang tubuh kita sebagai Bait Allah yang harus dijaga sedemikian rupa. Maka daripada itu, kebiasaan merokok bukanlah suatu perilaku yang mencerminkan seorang yang mengutamakan Tuhan. Kita harusnya percaya bahwa segala kenikmatan duniawi hanyalah membawa kita kepada ke sia-sia an. 

2. Mengikut Tuhan

Mengikuti/following dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti memperhatikan. dalam kata "memperhatikan", terdapat perilaku seperti mau mendengarkan, melihat, serta membaca firman Tuhan. Orang yang mengikut Tuhan, ia harus tau hal apa yang disukai dan tidak disukai Tuhannya. Maka daripada itu, penting bagi kita untuk membangun kebiasaan membaca Alkitab dan mempelajari firman-Nya. 

Yohanes 13 : 15

"Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu"

3. Keluar dari Zona Nyaman

Hidup mengutamakan Tuhan berarti kita harus siap menyerahkan hidup untuk mengerjakan setiap apa yang jadi kerinduan hati Tuhan. Mengambil keputusan untuk mengambil bagian dalam misi yang Tuhan tetapkan merupakan sebuah respon hati terbaik ketika kita menganggap Tuhan sebagai pusat dalam hidup kita.

Yohanes 12 : 25

"Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal".

Kata "mencintai nyawa" diibaratkan sebagai orang yang kurang mengambil risiko dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan. Orang ini bisa dikatakan sebagai orang yang takut keluar dari zona nyamannya, nyari aman. Orang yang egois dan mau cari aman sendiri akan menghancurkan kehidupannya sendiri dan kurang menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya. Selain itu, orang yang kurang bayar harga untuk dirinya dipakai oleh Tuhan sangat sulit untuk percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan, banyak keraguan dalam dirinya.





Seorang Hamba yang Taat

  Amsal 20 : 6 "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang setia, siapakah menemukannya?" "Taat" berarti "S...